Tag Archives: Indonesia

PROLOGUE

Jumpa lagi di Thursday Noise Poster Contest friend. Kali ini kita akan merespon Thursday Noise Bali. Buat yang punya gairah besar dalam senirupa, desain, dan musik bisa ikutan berpartisipasi membuat Thursday Noise Bali jadi makin keren (dengan karya lo tentunya). Siap friend? Mari kita simak mekanismenya sebelum mulai mendesain. Sukses!

MEKANISME THURSDAY NOISE POSTER CONTEST  Continue reading

Advertisements

Nama-nama band gue dari jaman SMA

Triple Jerk
The Blingers
Dawalla
Misery
Still Dirty
The Onky Alexander’s Wife
Bequiet
Jamaicunt Grinder
Morvoids
Jimi And The Playboys
The Upstairs
The Octobers
Morfem

Triple Jerk 1992
Band SMA. Namanya improve dari Circle Jerk. Beranggotakan 3 orang. Gue (bass, Vokal), Tjahjo (gitar), Eric (drum). Covering band Punk. The Dehumanizers/Godmen Of The Future, Misfits/Hatebreeder/20 eyes, Ramones/Cant Get You Outta My Mind/Miracles?pet Cemetary, Nirvana/Son Of A Gun/Molly’s Lip/ Dive. Masuk studio aja sudah senang. Gak pernah di ajak manggung.

The Blingers 1993
Sebenernya ini cuma pelebaran band gue Triple Jerk. Agus seorang kawan. Selalu mencerca Triple jerk karena mulai membuat lagu. Dia berkata, “kblinger lo bikin lagu segala. kayak bakal ngetop aje”. Saking kesalnya akhirnya anak itu kita tarik jadi gitaris. Dan namanya gue ganti seenak jidat jadi The Blingers. Sekilas terdengar seperti The Breeders. Bodoh sekali.

Dawalla 1993
Inilah salah satu kebodohan gue berikutnya. Karena gue lihat ada tetangga baru gue gondrong dan celana nya strecth. Akhirnya gue mengajak dia memainkan Thrash Metal. Ceritanya mau naik kelas, dengan memainkan lagu yang lebih sulit. Lagu yang kita cover adalah Sodom/Remember The Fallen dan Versi Metallica/ Am I Evil. Gue masih main bass. Setiap tambah lagu gue di ajarin. Gak pernah bisa ngulik. Nama Dawalla di ambil dari tokoh wayang tumaritis. Dan penyebutannya sekilas seperti Diswalla. Band Alternative 90an. Namun keanehan terjadi ketika gue main ke rumah kawan gue tersebut. Dia menyebut poster Laaz Rockit di kamarnya sebagai poster Bon Jovi. Gilanya setelah menggubah lagu, lagunya terdengar seperti U’camp. Seminggu kemudian dia malah mengajak mengcover U’camp. Hah?? kampret!! Akhirnya gue silam. Cabut cantik. Ternyata gue satu band sama poser (kalo jaman sekarang namanya Alay)

Misery 1994
Ini termasuk band gue yang keren. Tiba-tiba gue mulai nyoba main drum. Lagu pertama yang gue kulik Anthrax/Antisocial. Lalu gue ketemu gitaris kamar. Tetangga gue yang lain. namanya Patar Ganesha. Karena dia ngefans sama Slayer namanya berganti menjadi Tom. Kawan-kawan gue memanggil dia Tompi. Si Tom ini jago banget. Dia khatam memainkan Megadeth. Tapi jarang punya band sukses. Misery adalah band bikinan dia. Covering Necrodeath, Sepultura sampai Metallica. Karena simpang siur akhirnya gue di tarik masuk. lagu yang di mainin Megadeth. Walaupun cuma album Youthanasia. Tapi gue bangga banget sebagai drummer. pas Soundgarden rilis Superunknown. Gue malah ngajak jadi Soundgarden cover band. Ngehe susah banget. Band ini akhirnya bubar. Patar aka Tom (RIP) gue nobatkan jadi sahabat gue. Kelak beberapa tahun yang akan datang gue membuat lagu tentang dia bersama the Upstairs.

Still Dirty 1994
Selain Misery gue juga bergabung dengan band yang isinya orang-orang doyang ngebo’at. Namanya Still Dirty. karena mainnya acak-acakan. Dan gue lagi sedang gandrung sama Sonic Youth / Dirty. Gue kasih nama aja Still Dirty sekalian. Awalnya kita covering Misfits dan AMQA. Tapi karena vokalisnya kacau. Akhirnya kita bikin lagu saja. Judulnya Paranoid. Gue akui, gue comot judul dari Black Sabbath. Tapi lagu ini sungguh berbeda. Dan yang pasti buruk. Hahaha

The Onky Alexander’s Wife 1995
Bosan bikin band di kavling. Dan gak maju-maju. Akhirnya tabungan gue cukup buat kuliah. Masuk IKJ. Ketemu dengan sobat kental Henry Irawan aka Batman aka Henry Foundation aka Dashenfo. Nama band ini di cetuskan oleh Batman. Gue jadi vokalis, batman main Drum, Bayu di Gitar dan Budjel pada bass. Lalu kita mengcover Faith No More/From Out Of Nowhere dan merecycle Cant Take My Eyes Off You versi Morten Harket yang di buat seperti Faith No More. Tentu saja band ini tidak sukses. Kelar manggung sekali, gue stress. Dan gak mau melanjutkan band ini lagi. Tengsin 😀

Bequiet 1996-2000
Inilah band serius pertama gue. Ketika di ajak gabung bequiet adalah band Cover Version Cranberries. Ketika di ajak bergabung gue sedang dalam kondisi putus asa di musik. Jadi drummer Cranberries kw juga gak napa deh yang penting asik. Formasi ketika gue ganbung Ekay/Gitar,Tio / Bass, Poppy/Vokal, dan gue pada drum. Latihan pertamanya cukup unik.
Gue di bangunin Ekay ketika sedang tidur dikelas kosong kampus.
Ekay: “Jim latihan yuk!”
Lo bayangin, bangun tidur di ajak latihan. Bawain Cranberries band yang gak pernah gue dengerin sebelumnya.
Jimi: ” Ah lo gila kay, belum ngulik gua!”
Ekay: ” Nih gue bawa walkman, ada kasetnya”
Gila maksa banget nih anak. Gue bangun sambil males-malesan. Ekay pun menyodorkan walkman Sony dan kaset Cranberries. Lalu gue meraih walkman, dan mengeluarkan kasetnya. Untuk di ganti dengan kaset Cranberries. Terkejut gue, ternyata di dalam walkman adalah kaset AMQA/Mutant Cat From Hell.
Jimi: “Bah! kenapa kita gak bawain ini aja!”
Ekay: “gue emang seleranya AMQA, tapi kalo nyari duit bawain Cranberries”
Jimi: “Weits ada duitnya nih?”
Ekay: “yoa…”
Akhirnya tanpa sempat mandi gue jalan ke depan TIM sambil dengerin Cranberries di walkman. Lalu naik bis ke Cipinang untuk latihan.
Kelak guelah yang merombak Bequiet. Memecat vokalisnya. Ganti dengan Asung yg warna vokalnya seperti Beastie Boys. Merilis dua album. Dan hampir setiap minggu main. Yang Gilanya….tanpa bayaran. Underground cing. Tekor di latihan dan rekaman. Akhirnya satu persatu dapat karir yg oke di bidang Desain Grafis. Dan Asung jadi Seniman Kontemporer. Dan gue luntang lantung jadi pelukis mural. Temen-temen gue sukses. Gue…cekak abis.

Jamaicunt Grinder 1997
Di sela-sela bequiet, adik kelas gue Bump Sickos, ngajakin gue gabung di Jamaicunt Grinder. Sebagai gitaris! Kampret gak tuh. Semua lagu di ajarin Bump. Musiknya Grind Punk. gue gak tau deh nama musiknya. Vokalisnya Are Cobor cenderung Scream. Ngeri amat nih band. Formasinya unik. Bump di Drums, Gue Gitar, dan Are di vokal. Tanpa Bass. Bising abis!

Morvoids 1999
Berbekal ilmu dari Jamaicunt Grinder. Gue balik ke kavling. Ke kawan lama gue Tom Ganesha. Lalu bikin lagu yang memadukan Punk dengan Grind. 8 lgu di rekam. Sayangnya masternya yang berupa kaset hilang. Salah satunya sempat masuk kompilasi Rebel Brothers. Dan lo tau apa judul lagunya? Judulnya….NGENTOT

Jimi And The Playboys 2000
Di sini gue bener-bener serius. Gue mulai jenuh dengan distorsi tebal. Sekarang selera Rock N Roll gue yang gue naikkan. Mengubur semua musik kenceng. Gue buka lagi Chuck Berry, Little Richards. Dan yang agak Modern Iggy Pop dan Velvet Underground. Formasi pertama cukup keren. Gue vokal, Ekay gitar, Vincent Rompies Bass, Desta 80’s Drums. Covering Iggy, The Troggs, dan Kingsmen. Semua personel menganggap band ini cuma momentum belaka. gak ada yg mau serius, tapi gue jalan terus. Cerita band ini sangat panjang. Gue akan menulis judul sendiri kelak. Tapi yang pasti Jimi And the Playboys adalah cikal bakal The Upstairs

The Upstairs 2001-sekarang
Inilah masa gemilang eksperimen gue. Gue lakukan hal yang gak pernah gue lakukan sebelumnya. Memasukkan unsur synth, dan drum elektrik ke musik Punk. Melakukan pola pikir New Wave di tahun 2000an. pertemuan gue dengan manusia ajaib bernama Andre “Kubil” Idris menghasilkan pencapaian yang lebih tinggi.

The Octobers 2004
Kalo ini cuma band sampingan. Bersama Ario The Adams, Ale dan Rio White Shoes, dan Beni The Upstairs. Semacam band top 40. Tapi memainkan rock nroll anthem. Seperti Kiss, The Damned, Buzzcock, Iggy Pop, The Kinks dll. Cuma hadir tiap bulan Oktober. Untuk acara kampus Oktaria di pantai Carita. Sempet main di BB’s. Setelah itu bubar. Dan Reuni di bulan Oktober entah kapan.

Morfem 2011 sampai nanti
Kalau ini sudah pasti masa depan gue. Gue kembali menjadi minimalis. Distorsi. Dengan team yang lebih muda. Ternyata gue sangat agresif dalam masalah berkarya. Gue butuh team yang sama agresifitasnya. Pandu adalah pilihan tepat. Freddie pilihan yang keras. Dan Bram pilihan yang rumit. Perpaduannya lebih Fun. Vibenya positif. Sederhana menusuk. Yoi…

Berlagak Gila! hahaha….


Booking Contact/CD direct Selling:
0858 11 764 764
Twitter: @morfem_band
Official Blog: http://morfemband.wordpress.com/
Morfem Use:
Radix Guitars
Crooz Apparel
MORFEM DATANG SEMUA SENANG

Haram! Pameran bersama Poison #1

Poison #1 adalah pameran bersama ke dua gue di tahun 2011. Di laksanakan di sebuah gallery yang cukup mewah di Art District, Grand Indonesia east mall, lg. Sejak dari tanggal 31 March sampai 30 April. Waktu pameran yang cukup lama. Menyenangkan. Pameran bersama ini juga menampilkan karya PinkGirlGoWild, Emte, Monica Hapsari, Motulz, dan Ika Vantiani.

Awalnya pameran ini bertujuan untuk di selaraskan dengan peluncuran buku Eunice Nuh aka PinkGirlGoWild berjudul Racun.  Gue di kontak Eunice untuk berpartisipasi di kelompok ini. Judul pamerannya cukup oke. Poison. Walaupun kalimat pertama yang hadir di kepala gue ketika di tawarkan gabung adalah “Open Up And Say Aaah…” 🙂

Berminggu-minggu berlalu, belum ada ide cemerlang yang hadir di kepala gue. Hingga suatu pagi. Tujuh Hari sebelum pembukaan pameran. Twitter ramai oleh pembahasan tentang fatwa MUI tentang haramnya menghormat bendera. Sambil ikut nimbrung di dunia maya mengomentari komentar kawan-kawan gue yang serius amat. Tentu dengan bahasa bercanda gue, plus mencela ke kanan ke kiri. Hingga akhirnya terbersit ide “Haram” di kepala gue….

Eureka! Akhirnya datang juga ide gue untuk berpameran nanti. Haram. Hormat bendera di haramkan. Kopi luwak sempat di haramkan. Mengapa Pembajakan hak cipta (CD dan DVD) tak pernah di beri fatwa haram. Mengapa senjata tajam tidak di haramkan oleh dunia. Dan semoga Harim tak pernah mendapat pangkat Haram. hahaha…tinggal bagaimana mengeksekusinya.

Karena tempat berpameran yang cukup lux. Akhirnya gue punya ide untuk menampilkan Haram dengan format poster. Seperti yang pernah gue lakukan di jalanan beberapa tahun silam. Gaya jalanan masuk ke ruangan dingin berAC. Jika elo membaca postingan ini sebelum tanggal 31 April. Segeralah datang ke Puri Gallery. Rasakan sensansinya.

Berlagak Gila!

Ha ha

JM

Morfem Gigs: Main di Ruang Tamu Kawan

Sebuah gigs bernama Hey Saturday ini sangat menawan.  Bahkan unik. Bagaimana tidak. Nama acara Hey Saturday ini di laksanakan hari minggu. 27 Februari 2011. Karena hari sabtunya ada Earth Hour. Sebuah alasan yang keren. Pemilihan venue di Brewww, kemang  juga cukup unik. karena setingan tempat di sana sangat nyaman untuk duduk dan ngobrol. Susunan sofa memenuhi seantero ruangan. Akhirnya suasana seperti di undang di rumah kawan, yang orangtuanya sedang pergi keluar kota. Walaupun penonton tidak larut dalam suasana hingga bersimbah keringat. Tapi gue sangat senang dengan acara ini 🙂

Continue reading

Morfem Gigs: Rollingstone INA, panggung (ukuran) besar pertama 2011

RollingstoneINA Release party kali ini cukup special. Selain di dukung Langitmusik Telkomsel, malam ini juga merayakan bersandingnya Rollingstone.co.id dengan Detik.com. Maka acara pun di selenggarakan di  panggung besar di belakang kantor Rollingstone. Bukan di panggung kecil Rollingstone Cafe seperti biasa. Soleh Solihunlah yang menghubungi kita untuk main. Namun setelah selesai wawancara, Soleh menunjuk panggung besar, dan menyebut Drive, Pee Wee Gaskins dan The Milo sebagai line up lainnya. Tidak ada kata lain yang terbersit di kepala. Selain Morfem harus mengajak Jaya Roxx sebagai engineernya nanti.  Continue reading

Morfem Gigs: Curi Perhatian di Welcoming Stage “Stone Temple Pilots”

Suatu kesempatan emas untuk main di welcoming stage Stone Temple Pilots. Walaupun belum menjadi opening seperti The Flowers. Panggung kecil sebelum pintu masuk pun cukup bisa di maksimalkan. Bagaimana tidak. Kita bisa menarik perhatian ribuan orang yang antri sebelum masuk ke panggung utama. Malam itu, 13 Maret 2011, konser STP di adakan di panggung Jiexpo PRJ. Ribuan orang berbondong datang (rata-rata berumur cukup dewasa). Mulai antri di depan pintu masuk. Bobby Jones, sebuah band bernuansa GNR plus Alternative Rock main di awal acara. 30 menit kemudian mereka turun pentas. Saat yang tepat untuk main. Tapi belum sempat kita set alat, kesempatan emas ini nyaris hilang dari genggaman.  Continue reading

Ebiet G Ade

Ebiet adalah Goth! Itulah impresi pertama yang timbul sewaktu mendengar intro Camelia I. Waktu itu usia masih sangat kecil dan belum lancar membaca. Dan saya lari tunggang langgang mendengar intro lagu tersebut. Namun ketika Ebiet mulai bernyanyi, barulah saya mulai memberanikan diri mendekat pada tape deck Akai di ruang keluarga. Dan mendengarkan album Camelia I lagu demi lagu. Kakak perempuan tertua saya lah yang bertanggung jawab memperdengarkan Ebiet pada saya untuk pertama kalinya. Memang Ebiet G Ade dan Bimbo adalah soundtrack masa-masa pertumbuhan saya di rumah. Pada saat itu Ebiet sekedar penyanyi pop yang kondang belaka buat saya. Tanpa harus memutar abumnya, otomatis saya akan mendengarkan lagu-lagunya di rumah. Lagu Untuk Sebuah Nama hampir lazim terdengar di setiap tongkrongan remaja yang menghabiskan malam sambil bermain gitar. Dan di setiap gitar mereka sering terlihat stiker yang ngetop pada zaman itu tertempel. Sebuah sticker urban yang melambangkan betapa identiknya Ebiet dengan gitar akustik. Sticker yang bertuliskan “Gitar milik Pribadi, Ebiet minjem aja gak gue kasih.”  Continue reading