2 artefak bernama KEBUNKU

Gara-gara Arian 13 ngomongin kaset di twitter, gue jadi ngubek-ngubek lemari. Mecari kaset yang tersisa. Salah dua yang paling unik dari peninggalan kaset gue adalah rilisan D.I.Y. dari Kebunku. sangat menarik untuk di ceritakan.

Desember Tahun 1999. Kebunku merilis album pertamanya. Kebunku / Demo Ca’ur. Di rekam secara Live di Studio K. Pondok  Gede. Studio sejuta umat scene underground Jakarta 90an.

Setelah proses rekaman, mereka menggandakan materi tersebut ke atas kaset. Dengan system tape to tape rumahan ke atas kaset C-15. Gue yakin mereka beli di toko kaset Duta Suara. Jl Sabang. Jakarta Pusat. Tanpa label apapun di kasetnya. Mereka menjual album ini seharga Rp 5000,- (kalau tidak salah). Di sebarkan di kampus mereka. Di tiap gigs. Dan kepada kawan-kawan terdekat mereka. Gue gak tau tuh, berapa keping berhasil mereka jual.

Tapi yang menarik dari rilisan ini adalah artwork Sleevenya:

Di gambar langsung oleh Vokalis, Gitaris dan Penulis hampir semua lagu mereka. Johan. Artwork ini di gambar langsung di kertas hvs. Lalu di photocopy. Ukuran gambar di atur sedemikian rupa supaya pas memphotocopy , bisa dapat dua artwork dalam satu hvs. Di potong di lipat, lalu jadilah album. Satu album berisi enam lagu. Side A: Karimba, Mati, Monyet. Side B: Lari, Senang, dan… Cantik. Nanti kita bahas liriknya.

Setahun kemudian. Mereka merilis album kedua. Di beri judul: KEBUNKU 2 Ca’ur Sedikit.

Masih gambarnya si Johan. Dengan image yang cukup provokatif. Gogon di atas bola dunia (tepatnya Indonesia). Merefleksikan musik mereka yg beraroma Punk Rock (hahaha). Masih enam lagu saja. Tetap di kaset C15. Tetap di photocopy. Side A: Jika, Aku, Wulan Guritno. Side B: Cinta, Skali, Nanti.  

Bagaimana sleve artworknya? Silahkan di nikmati

Keren abis. Tetep di gambar manual. Tanpa rekayasa komputer. Dengan perbandingan ukuran 100 %. Gila!!

Itu baru artworknya bagaimana musiknya. Johan (Gitar, Vokal), Oki (Bass), Tombak (Drums, backing vokal) memainkan musik minimalis yg genius. Punk Rock ala Bad Raligion di mix Reggae (bukan Ska) dengan vokal lantang, serak. Termasuk berbeda pada zamannya.

Yang paling membuat band ini be beda adalah cara bernyanyi Johan dan juga penulisan liriknya. Jangan remehkan judul mereka yang singkat-singkat itu. johan menulis lirik dengan emosi ber api-api. kadang frustrasi, kadang main hati. Tema lagu mereka memang keseharian. Kesal dengan orang tengil, sampai menyumpahi rumah mereka kebakaran (Mati). Godain cewe yang lewat (Cantik). Bahkan untuk musik Underground akhir 90an, gue yakin baru Kebunku yang dengan santai mengangkat tema Wulan Guritno. Dan pada lagu Cinta, Johan dengan gamblang melukiskan ketertarikannya kepada adik kelasnya. Yang kebetulan ber-ending Tepuk Sebelah Tangan. Oiya adik kelasnya itu bernama Sari. Yang kini kondang sampai ke Amerika dan Eropa dengan bandnya White Shoes And The Couples Company. Sebuah lagu cinta terkeren pada jamannya.

Terus terang Kebunkulah salah satu pemicu gue untuk menulis lirik Indonesia di  tahun 2001 bersama The Upstairs. Dan Kebunkulah yang membuka wahana gue tentang lagu cinta.  Ternyata menulis lagu Cinta dalam bahasa Indonesia itu juga bisa jadi selebor, brengsek, dan tetap terdengar cool.

Setelah rilis Kebunku 2, Ca’ur Sedikit. Kebunku sign kontrak dengan Green Label.Merekam materi lama mereka ke format yang lebih serius. Di produseri oleh Ivanka (Bassist Slank). Yang juga pemilik label. Rilisan masih dalam format kaset.

Setelah album ini rilis. Tawaran manggung membanjiri Kebunku. Bahkan Superman Is Dead pernah mengklaim kalau mereka mengidolakan Kebunku pada sebuah majalah remaja. Tapi di lain cerita, Johan malah memutuskan keluar dari Kebunku. Patut di sayangkan. Padahal kesuksesan sudah beberapa meter di depan wajah Kebunku.   Gue jadi inget film Almost Famous jadinya.

Sampai sekarang Kebunku masih merilis album. Dan masih bermain di scene lokal. Dengan vokalis baru. Masih terdengar enak sebenernya.

Tapi gak bisa di pungkiri. Gue kehilangan gaya bernyanyi Johan yang sangat Indonesia dengan liriknya yang marah, frustrasi dan kasmaran.

Bangga masih menyimpan 2 artefak musik cerdas Indonesia🙂


Booking Contact: 0815 89 86 915
Morfem CD and Merchandise click SHOP
Official Blog: http://morfemband.wordpress.com/
Twitter: @morfem_band
Morfem Uses:
Radix Guitars
Morfem 2nd album recorded at: ALMOS a small recording studio at jl. kalibata timur I no 30 jakarta. Follow: @Almosstudio

MORFEM DATANG SEMUA SENANG

8 responses to “2 artefak bernama KEBUNKU

  1. Wuih ga nyangkaa jojoba sampe diidolakan sama SID! mantepp
    btw sepertinya penulis udah lama ga ketemu jojoba nih.. maen k daerah tendean aja mas jim :p

  2. wew ada kebunku! JOSSS!!!

  3. kalo udah mau dijual bilang yang om jimi
    siap menampung, hehe

  4. Pingback: Ini Milisi Kecoa bung! Yoa!! | Jimi Multhazam says…

  5. Kalo gak salah dulu mereka pernah rilis ep juga deh bang Jim yg judulnya “johanokitombaktekpeduli” *CMIIW

  6. Tuh kaset gak di jual gak…aku beli deh…aku ngefans banget ama band ini…aku cuma punya album “lagu lama”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s