Cerita Tentang Sebuah Kursi

Dulu, gue gak pernah berfikir tentang kursi. Bagi gue kursi cuma tempat untuk menghempaskan pantat belaka. Malah sempat bertahun-tahun ngekos di tempat yang dari kayu. Gue cuma bersila sambil melakukan apapun. Kadang tengkurap. Bersila sambil merunduk. Celentang. Gaya miring. Semua gaya tadi cocok buat nulis, menggambar, baca buku, atau sekedar melamun. Dan yang okenya lagi. Gue bahkan jarang banyak punya meja pribadi. Jadi pada saat itu, kalau di suruh memilih. Pilih kursi atau sepatu. Ya pasti gue pilih sepatu. Lagian gak ada yang menuntut gue untuk memilih kala itu hahaha..

Ketika sudah menikah, istriku menyediakan sebuah meja tua. Yang di politur ulang. Seru juga. Di atasnya bisa naro mini Hifi, top 10 buku yg lagi di baca, 20 keping CD yang lagi sering gue putar, alat tulis, kwas, kamera, bahkan tinta China. seru juga yha. Gue jadi betah di sini. Akhirnya gue mencari kursi yang ada senderan. Oh ini kenapa orang seneng pake kursi. Sampai di pertaruhkan, bahkan di perebutkan. Ya ya ya akhirnya gue mengerti.

Lalu kursi butut gue patah. Akhirnya gue mencari kursi makan sebagai gantinya. Sampai di sini masih saja gue gak menganggap kursi itu spesial. Yang penting bisa duduk depan meja gue. Udah. Beres.

Hingga suatu malam gue balik ke rumah. Lalu mendekat ke meja gue…waaaaahhhhh

Lalu gue duduk di atasnya. Bah, nikmat friend. Tak pernah terfikir sebelumnya. Di tempat pribadi ada benda ini. Mungkin istri gue selalu memperhatikan gesture duduk gue di kursi. Mungkin dia yang gak merasa nyaman. sampai akhirnya dia membawakan kursi ini pulang. Rupanya ini lah makna kata Singgasana…walaupun gue tetap mengangkat satu kaki ketika duduk disana. Bahkan hanya dengan celana dalam saja.

I Love You Chiara


Booking Contact: 0858 11 764 764 | Kiki
Morfem CD and Merchandise go to SHOP
Official Blog: http://morfemband.wordpress.com/
Twitter: @morfem_band
Morfem Use:
Radix Guitars
Crooz Apparel
MORFEM DATANG SEMUA SENANG

One response to “Cerita Tentang Sebuah Kursi

  1. saya juga anak kosan yg melakukan segalanya bersila alias ga punya kursi, berarti harus cari suami yg care untuk beliin kursi nikmat begitu haha. nice posting om…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s