Cenayang Musik Indonesia 2011

2011 Musik Indonesia seperti apa? Wah saya bukan cenayang. Tapi sebelum masuk 2011 selera saya di buai musik yang bagus. Mungkin kalo kita tilik dari akhir 2010 kita bisa dapat gambaran seperti apa musik Indonesia 2011. Tapi saya selalu yakin musik Indonesia itu yang terbaik seAsia. Beneran. Coba kita tengok album-album 2010 seperti Bangkutaman, Ode buat Kota. White shoes and the couples company, Vakansi. Leonardo, The sun, Kelelawar Malam, Bayu Risa. Bah! Itu semuanya berwarna beda dan bagus semua. Coba survey 10 orang di busway. Apakah anda tau album-album tersebut. Saya yakin tidak semua menjawab iya. Paling tidak hanya tiga orang yang mengangguk setuju. Itulah fenomena monoton Musik Indonesia. Musik yang keren artinya gak di kenal luas oleh masyarakat.

Balik lagi ke tahun 1996/1997. Tiba-tiba di kampus saya kedatangan DJ dari Jerman. Alec Empire. Sekedar promosi budaya dari Ghoete Institut. Kita yang dateng terhenyak. Musiknya aneh banget. House tapi kok kenceng ala hard core. Dan beberapa bulan kemudian keluar lah E.P. dari Atari Teenage Riot. Dan meledak di dunia. Inilah Digital Hard Core!! Inggris lain lagi. Mereka punya Radio Program The Selecter. Isinya band-band muda, baru, bahkan underated Inggris yang di putar di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Bloc Party dan Arctic Monkeys termasuk yang di besarkan mereka. Dua Negara ini sadar kalau musik pop juga bagian dari budaya yang mereka yang perlu di sebarluaskan. Bagaimana dengan Indonesia. White Shoes dan The SiGIT mau main ke luar negeri sampe pontang panting nyari sponsor. Saya yakin Depdikbud pasti kurang paham dengan dua nama tersebut. Intinya Indonesia belum memperlakukan musik sebagai asset Negara. Kalo mengutip sabda sahabat saya, Marsha Suryawinata, jangan-jangan Good Nation Branding belum ada di agenda mereka nih ☺

Balik lagi ke tahun 2010, saya kerap bangun agak kesiangan. Dan biasanya bangun tidur langsung jalan ke meja makan. Nyari air buat basahi kerongkongan. Sebelum sampe meja makan saya akan melewati TV, dan biasanya program musik pagi sudah menyala. Gak usah di ceritakanlah yha. Kita sudah tau bagaimana bentuk programnya. Lha kenapa band sejenis itu yang ada disana. Kenapa tidak Bangkutaman dengan ode buat kotanya. Atau White shoes dengan Masa Remadjanya. Toh lagunya sama-sama ringan. Selera pembuat keputusannya nih. Saya tidak yakin selera masyarakat, atau biasa di sebut pasar, bentuknya seperti itu. Langsung lewatin TV masuk kamar mandi. Mendingan push up dan sit up, biar darah lancar.Ada yang menarik juga di 2010, sebuah band merilis albumnya. Dalam hitungan dua bulan ludes ribuan keping CD. Padahal show mereka berantakan secara tata suara. Lagunya pun jauh dari catchy.Tapi penonton mereka berjubel. Dan merchandisenya laku keras. Fenomenal sekali. Mereka ternyata seorang marketer wahid, bukan seniman. Lalu saya meninggalkan venue karena kuping tak tahan mendengar sound system yang tajam. Sebelum keluar pintu tengok panggung sejenak, terlihat personilnya sedang berakrobat memutar-mutar gitar. Bunyinya? Hanya feedback tak sengaja. Lalu saya berlalu.

Akhirnya, akan seperti apakah musik Indonesia di tahun 2011. Karya-karya musisinya, jelas banyak yang bagus. System kurang mendukung. Nah tinggal bagaimana musisi yang bagus bisa sekaligus pintar jadi marketing dan mengakali keadaan. Merekalah yang akan menjadi potret musik Indonesia 2011. Hingga sampai majalah ini tercetak saya belum mendapatkan jawabannya. Siapa gerangan. Bagaimana wujudnya. Yang pasti 11 januari 2011 Jude merilis EP mereka “Apa Pun Itu” dan tanggal 13, Morfem merilis “Indonesia”. Pembukaan yang bagus di 2011. Kelak akan di susul karya ajaib lainnya. Kita lihat saja nanti ☺

Tulisan ini di muat pada TRAX magazine edisi Januari 2011

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s